Flat design adalah tren desain yang digemari oleh di berbagai kalangan. Desainnya yang sederhana, tetapi tetap modern menjadikannya memiliki daya tarik tersendiri.
Lantas, apa sebenarnya yang dimaksud dengan flat design? Bagaimana contoh penggunaannya di sekitar kita?
Tak perlu berlama-lama, yuk simak panduan lengkap tentang flat design di bawah ini!
Apa Itu Flat Design
Menurut laman The Story, flat design adalah pendekatan minimalis untuk mendesain tampilan interface pengguna grafis dengan karakter dan budayanya sendiri.
Flat design bertujuan untuk membantu desain agar lebih fokus pada konten, tanpa mengganggu audiens dari efek visual. Oleh sebab itu, desain di dalamnya dibuat seminimalis mungkin.
Ciri khas tampilannya yang clean dan rapi membuat flat design banyak digunakan untuk berbagai jenis design, mulai dari UI/UX, ilustrasi, bahkan CV.
Selain itu, warnanya cerah dan desain dua dimensi juga menjadi bagian dari flat design ini. Bisa dilihat dari contoh di atas, meskipun minimalis bukan berarti membosankan, ya!
Untuk membuat flat design yang menarik, kamu perlu memadukan aspek warna, kontras, atau elemen-elemen tertentu di dalamnya.
Ciri-Ciri Flat Design
Tak hanya soal warna, flat design juga memiliki beberapa ciri unik yang perlu kamu ketahui.
1. Warna-Warna Kontras
Sudah sedikit dibahas di atas, flat design memiliki ciri dari segi penggunaan warna yang kontras, seperti warna-warna cerah dan mengandalkan kontras yang berbeda untuk mengirimkan isyarat visual kepada pengguna.
2. Bergaya 2D
Flat design memiliki bentuk minimalis, sederhana, dan tidak memiliki gambar yang realistis. Umumnya, drop shadow dan gradien tidak digunakan dalam desain ini.
3. Tipografi yang Sederhana
Tak hanya soal warna, flat design juga memiliki ciri lain pada bagian tipografi atau pemilihan font. Keberadaan tipografi dalam flat design sangat penting, lho! Sebab, jika salah memilih tipografi, tampilan desainnya pun menjadi kurang pas.
Biasanya font sans-serif adalah pilihan font yang tepat untuk flat desain. Font ini dimuat dengan cepat, cocok dengan gaya minimalis, dan mudah dibaca.
4. White Space
White space atau ruang kosong menjadi daya tarik tersendiri dalam flat design. Ruang kosong membantu kamu dalam menunjukkan bagian mana yang mereka inginkan untuk difokuskan oleh pengguna dan membuat situs web lebih mudah dibaca.
5. Grid-based Layout
Biasanya, flat design memiliki sifat yang simetris dan menggunakan kisi untuk tata letak dan hierarki.
6. Sederhana
Ciri yang terakhir adalah sederhana, termasuk dalam ikon simbolis, bentuk abstrak, tanpa tekstur, dan tanpa gradien.
Baca juga: 15 Software Desain Grafis Terbaik: Opsi Gratis Hingga Premium!
Kelebihan dan Kekurangan Flat Design
Terdapat beberapa kelebihan dan kekurangan dari flat design yang bisa menjadi pertimbangan kamu dalam menerapkannya nanti.
Kelebihan
1. Tipografi Lebih Mudah Terbaca
Desainnya yang sederhana tentu membuat audiens lebih mudah membaca pesan yang disampaikan di dalamnya. Sebab, desain yang mengandung drop shadow kadang kala mengganggu lettering di dalamnya.
2. Lebih Responsif
Flat design bersifat responsif. Sebab, idealnya gaya desain yang digunakan untuk web sama dengan mobile-app.
Hal ini membuat flat design lebih mudah untuk dibuat karena mudah untuk mengganti ukuran dan mengubah elemen. Flat design mengikuti tata letak berbasis kisi, yang berarti secara inheren responsif.
3. Memiliki Tampilan yang Menarik
Dilansir dari UX Institute, flat design memiliki tampilan yang lebih clean dan menarik daripada jenis desain lainnya. Inilah alasan kenapa flat design sangat populer. Banyak merek (dan pengguna) menyukai estetika ramping, modern, dan bersih yang diciptakan oleh flat design.
Kekurangan
Sayangnya, flat design masih memiliki beberapa kekurangan dari berbagai segi.
1. Desain yang Mirip Satu Sama Lain
Ketika menerapkan flat design, berarti brand kamu harus siap memiliki desain sama dengan brand lain. Untuk membuat tampilan desain yang lebih menarik, kamu perlu melibatkan elemen-elemen unik di dalamnya.
2. Tantangan Usabiliity
Apabila semua elemen pada halaman tampak flat, bagaimana pengguna mengetahui elemen mana yang interaktif?
Sebagai pengguna, kita terbiasa mengenali elemen interaktif melalui isyarat visual, seperti tombol yang dapat diklik atau formulir yang terlihat menonjol karena bayangan yang halus memberikan kedalaman.
Dalam flat design, isyarat visual ini tidak ada. Hal ini dapat menyulitkan pengguna untuk membedakan antara elemen interaktif dan non-interaktif. Selain itu, hal ini akan menjadi tantangan bagi pengguna untuk menyelesaikan tugas dan tindakan yang diinginkan.
Sejarah Flat Design
Berbicara tentang sejarah, flat design memiliki sejarah panjang hingga akhirnya berkembangan seperti yang kita temui saat ini.
Awal Flat Design
Dilansir dari Elementor Blog, flat design diciptakan sebagai respons langsung terhadap era realisme skeuomorfisme.
Sumber: Medium
Menurut beberapa sumber, desain ini sebenarnya terinspirasi dari Swiss Style. Dikenal juga sebagai Gaya Tipografi Internasional. Swiss Style adalah jenis desain grafis yang menjadi populer pada pertengahan abad kedua puluh. Gaya ini dikenal dengan:
- Minimalis
- Tata letak berbasis kisi-kisi
- Tata letak asimetris
- Keterbacaan
- Penggunaan tipografi sans-serif secara luas
- Bercerita dengan kombinasi fotografi dan teks
- Fungsionalisme
Buku spesimen tipe tahun 1950-an untuk Neue Haas Grotesk (atau Helvetica, seperti yang kita kenal sekarang) adalah contoh Gaya Swiss:
Sumber: Medium
Bisa dilihat, banyak dari apa yang sekarang kita gunakan dalam desain modern (flat) jelas terinspirasi oleh palet warna kontras yang tajam, pilihan tipografi yang datar dan aman, serta tata letak berbasis grid dari Swiss Style.
Dari pendapat yang dituliskan oleh Interaction Design Foundation, flat design ini kemudian dipengaruhi oleh gaya desain Bauhaus dan Modernisme hingga akhirnya menghasilkan flat desain yang biasa kita lihat saat ini.
Perkembangan Flat Design
Flat design kemudian berkembang pesat dan mulai populer di tahun 1950–1960an sampai diadopsi oleh berbagai brand ternama. Seperti Microsoft yang menerapkan flat design pada tahun 2006 untuk produk digitalnya Zune.
Selain itu, desain ini juga diterapkan pada Windows Phone dan Windows 8 dengan tampilan di bawah ini.
Sumber: Kompas
Sumber: Wikipedia
Pada awal tahun 2010-an, Microsoft mulai mengalihkan interface produknya ke UI yang flat design dan lebih intuitif. Apple akhirnya mengadopsi tren ini pada tahun 2013. Akhirnya, flat design pun meledak tak lama setelah itu.
Meskipun demikian, flat design seperti yang kita kenal selama ini telah mengalami perombakan kecil dalam beberapa tahun terakhir untuk menyelesaikan masalah kegunaan.
Contoh Flat Design
Setelah membahas sejarah dari flat design, kini kamu juga perlu mengetahui apa saja contoh dari flat design ini.
1. Desain Grafis
Flat desain akan banyak kamu temui di berbagai desain grafis, termasuk infografis.
Sumber: IStock
Tak hanya itu, kamu juga bisa menemukan flat desain pada sebuah CV, lho!
2. UI/UX
Selanjutnya, ada pula desain UI/UX yang juga menggunakan flat design dalam pembuatannya.
3. Icon
Pernah menjumpai icon-icon dengan bentuk unik, tetapi tetap sederhana? Nah, itu termasuk dalam flat design, lho!
Sumber: Freepik
4. Ilustrasi
Selanjutnya, ada pula contoh ilustrasi yang termasuk dalam flat design.
Sumber: DigitalStudio41
5. Animasi
Terakhir, kamu juga bisa menemukan contoh flat design di sebuah animasi.
Sumber: Vecteezy
Baca juga: 20 Prospek Kerja DKV, Ada Desainer Grafis hingga Humas
Nah, itu dia beberapa hal tentang flat design yang perlu kamu ketahui. Semoga dapat bermanfaat dan bisa menjadi referensi dalam menciptakan desain yang lebih menarik lagi kedepannya, ya!
Sembari mempelajari tentang flat design, kamu juga bisa meraih peluang kerja lewat di bidang desain dengan berbagai lowongan kerja graphic design dari Dealls!
Di sini, kamu akan menemukan lebih dari 1000 lowongan kerja terbaru setiap harinya dari perusahaan ternama!
Masih ragu dengan jenjang karier yang kamu pilih? Tenang, kamu juga bisa kok mengikuti career mentor untuk berdiskusi bersama ahlinya!
Yuk, kembangkan karier terbaik bersama Dealls!
Sumber:
What is Flat Design and How to Use It: A Complete Guide