Cyber Security Roadmap: 4 Fase Belajar dari Nol Tanpa Background IT!

Cyber security roadmap adalah rencana strategis penguatan keamanan digital. Umumnya mencakup tahap identify, protect, detect, respond, dan recover.

Dealls
Ditulis oleh
Dealls December 10, 2025
Dealls App
Lamar Loker Prioritas. Dilirik HR Lebih Cepat.
Peluang kerja eksklusif dari perusahaan top, hanya di Dealls. Mulai karier impianmu hari ini!
Lihat Lowongan Prioritas

Table of Contents

Semakin banyak serangan digital membuat perusahaan berlomba memperkuat keamanan datanya. Alhasil, minat terhadap posisi cyber security pun meningkat.

Namun, banyak orang yang tertarik membangun karier di bidang ini kerap dihadapkan nformasi yang terasa membingungkan dan tidak terstruktur.

Dengan menggunakan cyber security roadmap, kamu bisa melihat gambaran jelas tentang apa yang harus dipelajari tanpa kebingungan.

Lewat artikel ini, kamu akan mendapatkan panduan sederhana, runtut, dan mudah diikuti untuk mulai masuk ke dunia keamanan siber. Yuk, simak!

Apa Itu Cyber Security?

cyber security roadmap
Ilustrasi Seorang Cyber Security

Setiap kali saat login ke akun bank, menyimpan file kerja di cloud, atau sekadar menggunakan WiFi kantor, ada risiko data dicuri atau sistem disusupi.

Serangan seperti phishing, kebocoran password, hingga ransomware bisa terjadi kapan saja, bahkan pada perusahaan yang terlihat “aman-aman saja”. Nah, di sinilah cyber security berperan.

Cyber security adalah upaya melindungi data, perangkat, dan jaringan dari ancaman digital. Tujuannya untuk menjaga informasi tetap aman, tidak diubah sembarangan, dan tetap bisa diakses oleh orang yang berhak.

Dalam sebuah studi yang dikutip dari Scientific Research, diketahui bahwa investasi keamanan siber membantu mengurangi probabilitas pelanggaran dan kerugian eksternal bagi perusahaan, menunjukkan bahwa investasi yang memadai bisa menurunkan kerugian.

Cyber security kerjanya gimana? Bidang ini mencakup banyak hal, mulai dari mengamankan perangkat, mengatur akses pengguna, memantau aktivitas mencurigakan, hingga menangani insiden ketika serangan benar-benar terjadi.

Dengan memahami dasar-dasarnya sejak awal, kamu akan lebih mudah mengikuti roadmap belajar dan memilih spesialisasi yang tepat dalam keamanan siber.

Seiring pertumbuhan teknologi cloud dan Internet of Things (IoT), kompleksitas ancaman juga meningkat.

Perkembangan tren seperti yang berfokus pada Cloud SecurityArtificial Intelligence (AI) dalam Cyber Security, dan DevSecOps juga menjadi bagian krusial dalam cyber security roadmap modern yang menunjukkan bahwa bidang ini terus berinovasi dan sangat membutuhkan talenta baru.

Baca Juga: Kenali Apa Itu Tech Savvy dan 4 Cara Mengasahnya!

Skill yang Dibutuhkan untuk Menjadi Cyber Security

Berbeda dengan persepsi awam, karier di bidang keamanan siber pada faktanya tak hanya menuntut kemampuan meretas atau mengutak-atik kode yang rumit.

Sebab, untuk berhasil melindungi aset digital sebuah organisasi, kamu memerlukan perpaduan unik antara kompetensi teknis yang mendalam dan kecakapan interpersonal yang kuat.

Kombinasi inilah yang akan menentukan seberapa efektif kamu dalam menghadapi serangan yang kian hari kian canggih.

Berikut adalah enam skill dasar yang perlu kamu kuasai saat memulai perjalanan cyber security roadmap untuk pemula:

1. Computer Skill

Menguasai keterampilan komputer adalah dasar yang esensial. kamu perlu memiliki pemahaman mendalam tentang sistem operasi, perangkat keras, dan perangkat lunak yang digunakan dalam infrastruktur IT.

Keterampilan ini memungkinkan kamu mengidentifikasi kelemahan keamanan yang mungkin ada dan mengimplementasikan strategi keamanan yang tepat.

Detail yang wajib dikuasai:

  • Memahami arsitektur sistem operasi (Windows, Linux, macOS)
  • Mampu melakukan konfigurasi BIOS/UEFI dan virtualization (VMware/VirtualBox)
  • Menguasai konsep manajemen memori dan proses
  • Memahami dasar-dasar system hardening

2. Networking Skill

Networking skill adalah kemampuan untuk memahami dan mengelola jaringan komputer, yang merupakan bagian paling penting dari sistem keamanan.

Dengan keterampilan ini, kamu dapat mengakses dan menganalisis trafik jaringan untuk mendeteksi ancaman dan kerentanan, serta mengimplementasikan kontrol keamanan yang efektif.

Detail yang wajib dikuasai:

  • Penguasaan model OSI dan TCP/IP
  • Memahami protokol utama (DNS, HTTP/HTTPS, SSH, FTP)
  • Mampu melakukan subnetting dan konfigurasi IP
  • Menguasai cara kerja firewall, router, dan switching
  • Mampu menganalisis lalu lintas jaringan menggunakan tool (misalnya Wireshark)

3. Linux Skill

Linux adalah sistem operasi yang banyak digunakan di bidang IT, terutama dalam server dan keamanan.

Menguasai Linux skill sangat penting untuk mengelola infrastruktur IT yang berbasis Linux, serta membantu kamu dalam mengatasi tantangan di bidang keamanan siber, termasuk mengidentifikasi dan mengatasi celah keamanan.

Detail yang wajib dikuasai:

  • Menguasai perintah dasar command-line Linux (Bash)
  • Manajemen user, grup, dan hak akses (permission)
  • Memahami manajemen layanan (services) dan proses sistem (misalnya systemd)
  • Mampu menulis skrip Bash sederhana untuk otomatisasi tugas
  • Familiaritas dengan distribusi keamanan seperti Kali Linux

4. Programming Skill

Programming skill sangat diperlukan untuk mengembangkan, menguji, dan mengimplementasikan teknologi keamanan.

Dengan kemampuan ini, kamu dapat menulis script untuk otomatisasi tugas keamanan, mengidentifikasi kerentanan, serta membangun solusi yang disesuaikan dengan kebutuhan infrastruktur IT. Bahasa Python adalah yang paling direkomendasikan.

Detail yang wajib dikuasai:

  • Menguasai Python untuk scripting dan otomatisasi (wajib)
  • Memahami bahasa web dasar (HTML, JavaScript) jika fokus pada web security
  • Mampu membaca dan menganalisis kode sumber (source code review)
  • Memahami konsep dasar Data Structures dan Algorithms

Baca Juga: Cara Menjadi Programmer kamul untuk Pemula, Kamu Wajib Tahu!

5. Ethical Hacking

Ethical hacking adalah praktik keamanan yang melibatkan simulasi serangan siber untuk mengidentifikasi kelemahan dalam sistem.

Jika menguasai keterampilan ini, kamu dapat membantu dalam mengukur risiko yang dihadapi oleh infrastruktur IT dan mengimplementasikan langkah-langkah mitigasi yang tepat. Ini merupakan langkah integral dalam meningkatkan keamanan sistem.

Detail yang wajib dikuasai:

  • Memahami metodologi hacking (Reconnaissance, Scanning, Exploitation)
  • Mampu mengidentifikasi kerentanan umum (OWASP Top 10)
  • Penggunaan dasar tools pemindaian (Nmap)
  • Memahami teknik Social Engineering dan cara pencegahannya

6. Penetration Testing

Penetration testing adalah proses menguji keamanan sistem dengan cara meniru serangan siber yang sebenarnya.

Keterampilan penetration testing membantumu untuk mengidentifikasi celah keamanan yang mungkin tidak terlihat dalam pengaturan standar dan mengimplementasikan kontrol keamanan yang lebih kokoh, serta memastikan implementasi kebijakan keamanan sesuai dengan regulasi.

Detail yang wajib dikuasai:

  • Mampu menggunakan framework seperti Metasploit
  • Menguasai teknik privilege escalation
  • Mampu menulis laporan penetration testing yang detail dan solutif
  • Praktik di lingkungan Capture The Flag (CTF) atau lab virtual
  • Memahami konsep Bug Bounty Programs

Roadmap Belajar Cyber Security untuk Pemula

Mengutip dari GitHub, berikut adalah rencana belajar cyber security untuk pemula. Cara belajar ini sangat terstruktur dan mencakup sertifikasi fundamental, keterampilan teknis praktis, dan persiapan karir sehingga memastikan kamu siap bekerja setelah menyelesaikan program.

Fase 1: Sertifikasi dan Dasar-Dasar (Hari ke-1–14)

Untuk memulai perjalananmu di cyber security, sangat penting untuk membangun pemahaman yang kuat tentang konsep inti jaringan dan keamanan sebelum melangkah ke topik yang lebih mendalam.

Minggu 1: Dasar-Dasar Jaringan (Network Fundamentals)

Di minggu pertama, tujuan utama kamu adalah menguasai konsep jaringan. Ini adalah bahasa dasar dari semua sistem keamanan.

  • Tujuan: Mengembangkan pemahaman yang kuat tentang model OSI, TCP/IP, protokol utama (seperti DNS, DHCP, HTTP), alamat IP, subnetting, dan komponen jaringan dasar (routerswitch).
  • Aktivitas Belajar: kamu harus mencari materi pelajaran yang relevan untuk ujian sertifikasi tingkat dasar seperti CompTIA Network+. Fokus pada ebook atau dokumentasi teknis yang menjelaskan arsitektur jaringan.
  • Latihan Praktis: Siapkan lingkungan lab virtual (menggunakan VirtualBox atau VMware) dan instal beberapa sistem operasi. Gunakan tool analisis jaringan seperti Wireshark untuk mengamati dan menganalisis paket data yang bergerak di antara mesin virtual kamu. Praktikkan konfigurasi jaringan dasar.

Minggu 2: Dasar-Dasar Keamanan (Security Fundamentals)

Setelah menguasai jaringan, kamu akan fokus pada kerangka kerja dan prinsip keamanan yang mengaturnya.

  • Tujuan: Menguasai konsep dasar Confidentiality, Integrity, Availability (CIA Triad), manajemen risiko, kriptografi dasar, keamanan operasional, dan arsitektur keamanan.
  • Aktivitas Belajar: Cari materi studi untuk sertifikasi CompTIA Security+ (atau yang setara). Fokus pada pemahaman perbedaan antara serangan (attack), ancaman (threat), dan kerentanan (vulnerability), serta prinsip-prinsip otentikasi.
  • Latihan Praktis: kamu bisa mulai menggunakan platform belajar interaktif seperti TryHackMe (bagian pemula) untuk memecahkan tantangan keamanan dasar. Praktikkan pemasangan dan konfigurasi dasar firewall atau Intrusion Detection System (IDS) sederhana di lab virtual kamu.

Fase 2: Menguasai Keterampilan Teknis (Hari ke-15–70)

Dengan bekal teori yang kuat, kamu harus beralih ke sesi hands-on yang intensif. Keterampilan ini adalah penentu kemampuan teknis kamu di lapangan.

1. Penguasaan Linux (Hari ke-15–28)

Karena sebagian besar server dan tool keamanan berjalan di Linux, kamu harus menjadi mahir dalam sistem operasi ini.

  • Tujuan: Mahir dalam navigasi command-line, manajemen file dan direktori, manajemen pengguna dan izin, proses sistem, layanan, dan dasar-dasar shell scripting (Bash).
  • Aktivitas Belajar: kamu dapat memanfaatkan dokumentasi resmi Linux (man pages) atau kursus daring yang berfokus pada administrasi sistem Linux tingkat dasar hingga menengah.
  • Latihan Praktis: Instal sistem operasi berbasis Linux (misalnya Ubuntu atau CentOS) di lab kamu. Latih perintah dasar dan lanjutan setiap hari, serta coba otomatisasi tugas-tugas kecil dengan script Bash.

2. Python untuk Otomatisasi Keamanan (Hari ke-29–42)

Pemrograman adalah kunci untuk mengotomatisasi tugas dan membuat alat khusus. kamu akan fokus pada Python karena keserbagunaannya di bidang keamanan.

  • Tujuan: Memahami dasar-dasar pemrograman Python, struktur data, fungsi, dan penggunaan library yang relevan untuk keamanan (seperti socketos, atau re).
  • Aktivitas Belajar: Ikuti tutorial pemrograman Python 3 yang berorientasi pada pemecahan masalah. Fokuslah pada menulis kode yang efisien dan bersih.
  • Latihan Praktis: Tulis script Python sederhana untuk tugas-tugas keamanan, seperti memindai port dasar, menganalisis baris teks (parsing log), atau berinteraksi dengan API dari tool pemindaian.

3. Analisis Lalu Lintas dan Forensik Jaringan (Hari ke-43–56)

Mampu melihat, memahami, dan menginterpretasikan lalu lintas jaringan adalah keterampilan penting bagi setiap analis keamanan.

  • Tujuan: Memahami cara kerja packet capture, mengidentifikasi protokol pada tingkat paket, mendeteksi anomali, dan menggunakan tool seperti Wireshark dan TCPdump secara efektif.
  • Aktivitas Belajar: kamu dapat mencari kursus atau dokumentasi spesifik tentang analisis paket. Pelajari tanda-tanda serangan umum seperti pemindaian port atau komunikasi Command and Control (C2).
  • Latihan Praktis: Kumpulkan packet capture dari berbagai aktivitas di lab kamu (misalnya, login ke situs web, transfer file). Analisis capture tersebut untuk menemukan informasi penting. Latih konfigurasi aturan deteksi pada Suricata atau Snort.

4. Manajemen Versi dengan Git (Hari ke-57–63)

Git adalah standar industri untuk mengelola perubahan kode dan kolaborasi. Kamu harus menguasai dasarnya.

  • Tujuan: Memahami konsep repositori, commitbranchingmerging, dan cloning. Mampu bekerja dengan Git melalui command-line.
  • Aktivitas Belajar: Gunakan panduan interaktif Git daring untuk mempelajari alur kerja dasar Git dan GitHub/GitLab.
  • Latihan Praktis: Buat repositori Git untuk semua script Python dan Bash yang telah kamu buat. Praktikkan branching dan merging untuk mengelola versi tool kamu.

5. Log Management dan ELK Stack (Hari ke-64–70)

Kemampuan untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis log dalam volume besar adalah inti dari pemantauan keamanan.

  • Tujuan: Memahami konsep Security Information and Event Management (SIEM), dan mempelajari cara kerja komponen utama ELK Stack (Elasticsearch, Logstash, Kibana) untuk analisis keamanan.
  • Aktivitas Belajar: Cari tutorial mendalam tentang deployment dasar ELK Stack atau alternatif serupa. Fokus pada cara parsing log yang berbeda (sistem, aplikasi, firewall) ke dalam stack tersebut.
  • Latihan Praktis: Deploy ELK Stack di lab virtual kamu. Konfigurasi Logstash untuk menyerap log dari VM Linux kamu dan buat visualisasi di Kibana untuk mencari peristiwa keamanan (misalnya, upaya login gagal yang berulang).

Fase 3: Spesialisasi dan Keamanan Lanjutan (Hari ke-71–84)

Setelah menguasai dasar-dasar, selanjutnya kamu dapat menjelajahi bidang yang lebih spesifik yang saat ini sangat diminati.

1. Dasar-Dasar Keamanan Cloud (Hari ke-71–77)

Karena cloud (AWS, Azure, GCP) mendominasi, pemahaman tentang risikonya kemudian menjadi sangat penting seperti berikut ini:.

  • Tujuan: Memahami model tanggung jawab bersama (Shared Responsibility Model), keamanan identitas dan akses (IAM), keamanan jaringan cloud, dan konfigurasi penyimpanan yang aman pada salah satu platform cloud utama pilihan kamu.
  • Aktivitas Belajar: Manfaatkan dokumentasi resmi dan materi pembelajaran tingkat dasar dari penyedia layanan cloud (misalnya, AWS Certified Cloud Practitioner atau Azure Fundamentals).

2. Peretasan Etis dan Pengujian Penetrasi (Hari ke-78–84)

Untuk menjadi defender yang baik, kamu harus berpikir seperti attacker dengan memperhatikan beberapa hal berikut:

  • Tujuan: Memahami metodologi pengujian penetrasi (misalnya, OWASP Top 10), melakukan pengintaian, pemindaian, eksploitasi dasar, dan pelaporan.
  • Aktivitas Belajar: Gunakan platform latihan legal seperti Hack The Box atau Vulnhub. Fokus pada exploitation dasar dan pelajari cara kerja tool populer seperti Nmap dan Metasploit.

Fase 4: Transisi ke Karir (Hari ke-85–90)

Langkah terakhir ini adalah mengubah keterampilan kamu menjadi pekerjaan, bagaimana caranya? Simak penjelasannya berikut ini:

Persiapan Karir dan Jaringan (Hari ke-85–90)

Bagian ini adalah waktu bagi kamu untuk memoles citra profesional kamu dan mulai mencari peluang kerja.

  • Penyusunan Resume: Susun resume kamu secara profesional, soroti keterampilan teknis dan proyek praktis yang kamu selesaikan (seperti "Menerapkan ELK Stack untuk Log Analysis" atau "Membuat Script Python untuk Port Scanning").
  • Pencarian Kerja: Manfaatkan platform profesional seperti Dealls untuk mencari lowongan kerja cyber security di posisi entry-level seperti Security Analyst, SOC Analyst, atau IT Support dengan fokus keamanan.
  • Jaringan (Networking): Terlibat dalam komunitas cybersecurity, hadiri webinar atau pertemuan virtual, dan terhubung dengan profesional di industri untuk mencari mentor dan peluang.

Dengan mengikuti rencana yang fokus dan terstruktur ini, kamu telah membangun portofolio keterampilan yang solid dan relevan untuk memulai karir kamu di dunia cybersecurity.

Langkah-Langkah Melakukan Cyber Security

contoh Cyber Security Roadmap.png
Contoh Cyber Security Roadmap | Sumber: Gartner

Setelah kamu melihat cyber security roadmap yang komprehensif, kini saatnya kamu memahami bagaimana teori dan pengetahuan tersebut diimplementasikan dalam praktik profesional di dunia kerja.

Cyber security roadmap yang kamu pelajari tadi adalah fondasi keahlianmu. Namun, di dunia profesional, implementasi cyber security umumnya mengikuti kerangka kerja baku yang terdiri dari lima tahap utama yang saling terkait, mirip dengan siklus hidup pertahanan siber.

Berikut lima langkah krusial untuk melangsungkan keamanan siber di perusahaan:

1. Identifikasi (Identify)

Langkah pertama cyber security adalah tentang mengetahui sebenarnya apa yang kamu lindungi.

Sebab, nantinya kamu akan menginventarisasi aset-aset kritis, menganalisis risiko, dan memahami lingkungan keamanan organisasi, termasuk sistem, jaringan, aplikasi, dan data penting.

Dengan memahami aset dan potensi kerentanan, organisasi dapat menentukan prioritas upaya keamanan mereka.

Detail tugas:

  • Melakukan inventarisasi aset digital (hardware, software, data).
  • Menganalisis dan mengklasifikasi tingkat risiko (risiko tinggi, sedang, rendah).
  • Memahami regulasi dan kebijakan keamanan yang berlaku di industri tersebut.
  • Mengidentifikasi jalur serangan potensial dan titik lemah (vulnerability).

2. Lindungi (Protect)

Setelah mengidentifikasi aset dan risiko, tahap selanjutnya adalah melindungi aset-aset tersebut. Tahap ini mencakup implementasi teknologi keamanan (seperti firewall dan perangkat lunak antivirus) dan pengaturan kebijakan keamanan yang jelas.

Fokus utamanya adalah mencegah akses yang tidak sah dan melindungi informasi sensitif. Ini adalah implementasi kontrol keamanan yang kokoh.

Detail Tugas:

  • Mengimplementasikan kontrol akses (otentikasi dan otorisasi).
  • Mengenkripsi data sensitif saat diam dan saat bergerak (in transit).
  • Mengkonfigurasi firewall, VPN, dan sistem pencegahan intrusi.
  • Menerapkan pelatihan kesadaran keamanan bagi pengguna (security awareness).

3. Deteksi (Detect)

Kemudian, tahap yang ketiga adalah mendeteksi. Tahap ini sangat penting untuk merespons serangan yang kerap datang ke sistemmu. Fokusnya adalah pada mendeteksi aktivitas yang tidak biasa atau berbahaya (malicious) dalam jaringan.

Nantinya, tahap ini akan melibatkan implementasi sistem pemantauan dan analisis log untuk mengidentifikasi potensi ancaman atau insiden keamanan. Deteksi dini sangat penting untuk meminimalkan dampak dari serangan siber.

Detail Tugas:

  • Menerapkan Sistem Deteksi Intrusi (IDS) dan Security Information and Event Management (SIEM).
  • Memantau dan menganalisis log aktivitas sistem secara real-time.
  • Mengembangkan ambang batas (threshold) peringatan untuk aktivitas mencurigakan.
  • Melakukan continuous monitoring terhadap jaringan dan sistem.

4. Respons (Respond)

Ketika terjadi insiden keamanan, tahap respons akan melibatkan tindakan cepat untuk mengurangi dampak serangan.

Respons biasanya mencakup isolasi sistem yang terinfeksi, menghentikan penyebaran malware, dan memulihkan layanan yang terganggu sesegera mungkin.

Detail Tugas:

  • Melakukan isolasi jaringan (containment) pada sistem yang terinfeksi.
  • Melakukan analisis forensik digital untuk memahami sumber dan metode serangan.
  • Mengkomunikasikan insiden kepada pihak terkait (manajemen, legal, pelanggan).
  • Mengambil tindakan pembasmian (eradication) terhadap ancaman.

5. Pemulihan (Recover)

Tahap terakhir adalah pemulihan sistem dan data ke keadaan normal setelah terjadi insiden keamanan (recover).

Tahap recover melibatkan pengembalian sistem ke operasi normal, memulihkan data yang hilang, dan mengambil langkah-langkah korektif untuk mencegah kejadian serupa di masa depan. Pemulihan yang efektif membantu organisasi untuk pulih dengan cepat dan menjaga kontinuitas bisnis.

Detail Tugas:

  • Mengembalikan data dari backup yang aman dan teruji.
  • Melakukan hardening pada sistem yang diserang untuk menutup celah.
  • Mendokumentasikan insiden dan pelajaran yang didapat (lessons learned).
  • Menguji sistem yang telah dipulihkan untuk memastikan tidak ada backdoor atau kerentanan tersisa.

Cara Menjadi Seorang Cyber Security

Sebenarnya, mengikuti cyber security roadmap ini adalah langkah awal yang brilian jika kamu tertarik ingin menjadi seorang cyber security.

Namun, untuk benar-benar memasuki pasar kerja dan membuktikan kapabilitas yang sesungguhnya, kamu memerlukan validasi formal dan pengalaman praktis yang nyata.

1. Mulai dari Pendidikan yang Relevan

Pendidikan formal seperti Ilmu Komputer atau Teknologi Informasi membantu kamu memahami dasar jaringan, sistem operasi, serta kriptografi.

Bekal ini membuatmu lebih siap memasuki peran awal seperti Security Analyst atau Security Administrator.

Jika kamu belum punya latar belakang tersebut, kamu tetap bisa mengejarnya melalui bootcamp, kursus daring, atau jalur otodidak. Yang terpenting adalah memahami konsep dasar keamanan informasi.

2. Kuasai Kemampuan Dasar Cyber Security

Ada beberapa kemampuan inti yang perlu kamu kuasai secara bertahap. Kemampuan pemrograman seperti Python dan C++ akan membantumu memahami cara kerja sistem sekaligus menemukan titik lemah di dalamnya.

Pemahaman tentang sistem operasi dan jaringan seperti Linux, Windows, firewall, VPN, DNS, serta protokol TCP IP juga sangat penting.

Selain itu, kamu perlu mengenali cara kerja network security, memahami konfigurasi firewall, IDS atau IPS, serta membaca lalu lintas jaringan.

Dasar kriptografi juga wajib dikuasai karena berkaitan dengan cara melindungi data. Kemampuan ethical hacking dan penetration testing akan membantumu memahami pola pikir penyerang agar bisa menutup celah keamanan.

Dalam pekerjaan sehari-hari kamu juga akan berhubungan dengan penilaian risiko, sehingga pemahaman manajemen risiko sangat diperlukan.

Dunia cyber security berkembang cepat sehingga kamu perlu terus memperbarui pengetahuan dan mengikuti tren terbaru.

3. Kenali Perangkat yang Paling Sering Digunakan dalam Cyber Security

Ada sejumlah perangkat yang menjadi senjata utama para profesional keamanan, yaitu:

  • Kali Linux digunakan untuk kebutuhan penetration testing karena menyediakan banyak alat bawaan.
  • Wireshark membantu menganalisis lalu lintas jaringan dan mendeteksi anomali.
  • Metasploit digunakan untuk menguji exploit dan memahami celah keamanan.

Tools seperti John the Ripper, Nikto, serta Cain and Abel juga banyak dipakai untuk analisis kekuatan sandi dan pendeteksian kerentanan.

Selain itu, firewall dan antivirus tetap menjadi pondasi utama sistem perlindungan. Semakin sering kamu berlatih menggunakan perangkat ini, semakin terasah insting dan kemampuan analisismu.

4. Ambil Sertifikasi yang Tepat

Sertifikasi menjadi bukti bahwa kamu memahami standar industri. Untuk pemula, langkah terbaik adalah memulai dari CompTIA Security Plus.

Setelah itu, kamu bisa melanjutkan ke Certified Ethical Hacker jika ingin fokus pada ethical hacking dan penetration testing.

CISSP dapat menjadi tujuan jangka panjang ketika kamu sudah berpengalaman. Sertifikasi ini akan meningkatkan kredibilitas dan memperluas peluang karier.

5. Belajar Praktik Lewat Platform yang Bersifat Hands On

Penguasaan teori saja tidak cukup. Kamu perlu melatih kemampuan melalui platform seperti TryHackMe dan Hack The Box yang menyediakan arena latihan dalam lingkungan aman.

Mengikuti kompetisi CTF juga sangat bermanfaat karena menghadapkanmu pada tantangan nyata seperti eksploitasi, forensik digital, dan kriptografi.

Kamu juga bisa membuat proyek pribadi seperti pemindaian kerentanan, pengujian sandi, atau simulasi respons insiden. Pengalaman praktis seperti ini sangat berpengaruh ketika kamu mulai masuk ke dunia kerja.

6. Tentukan Spesialisasi yang Paling Sesuai

Bidang cyber security sangat luas sehingga kamu perlu menentukan jalur yang paling sesuai dengan minat dan kekuatanmu.

Kamu bisa memilih fokus sebagai ethical hacker, incident responder, security analyst, analis intelijen ancaman, forensik digital, cloud security, atau spesialis GRC. Setiap jalur memiliki cakupan, tujuan, dan perangkat yang berbeda.

7. Baca Studi Kasus agar Memahami Pola Serangan

Membaca studi kasus membuatmu memahami bagaimana serangan terjadi, apa dampaknya bagi bisnis, dan langkah apa yang efektif untuk menanganinya.

Contoh paling umum adalah kasus phishing pada lembaga keuangan, kebocoran data pada platform e-commerce, atau serangan ransomware pada perusahaan besar.

Pendekatan ini melatih kemampuan analisis dan membuatmu berpikir layaknya profesional keamanan.

8. Bangun Pengalaman Nyata

Pengalaman bisa kamu mulai dari magang atau posisi pemula seperti Junior Security Analyst. Jika kamu ingin bekerja secara mandiri, kamu bisa mencoba pekerjaan lepas sebagai penetration tester atau mengikuti program bug bounty.

Kompetisi CTF tingkat kampus maupun internasional juga termasuk pengalaman berharga. Perusahaan tidak menuntutmu untuk langsung mahir. Mereka lebih menghargai kemauan belajar dan kemampuan memecahkan masalah.

Baca Juga: Gaji Programmer di Indonesia 2025 & Perbandingan dengan Luar Negeri

9. Gabung Komunitas dan Bangun Jaringan Profesional

Bergabung dengan komunitas cyber security akan membantu kamu berkembang lebih cepat. Kamu bisa bertemu mentor, memperoleh referensi pekerjaan, mempelajari teknologi baru, hingga berkolaborasi dengan profesional lain. Keterlibatan aktif dalam komunitas juga meningkatkan reputasi dan wawasanmu.

10. Mulai Melamar Pekerjaan Cyber Security

Setelah kamu memiliki pemahaman dasar, pengalaman praktik, sertifikasi awal, serta portofolio proyek, kamu siap untuk mulai melamar pekerjaan.

Ada banyak peluang di perusahaan teknologi, perbankan, e-commerce, maupun startup. Kamu bisa memulai dari platform Dealls yang menyediakan ribuan loker cyber security.

Selain itu, kamu juga bisa menggunakan layanan CV Reviewer Dealls untuk memastikan CV-mu sudah optimal, profesional, dan siap bersaing di industri teknologi yang sangat ketat ini.

Yuk, saatnya jadikan Dealls sebagai andalan kamu untuk menemukan pekerjaan impian di bidang cyber security.

Cari Loker Cyber Security di Dealls Hari ke-Ini!

button buat akun & lamar loker sekarang

 

Referensi:

Gordon, L. A., Loeb, M. P., Lucyshyn, W., & Zhou, L. (2015). Externalities and The Magnitude of Cyber Security Underinvestment by Private Sector Firms: A Modification of the Gordon–Loeb ModelJournal of Information Security, 6(1), 24-30.

Tips Pengembangan Karir
Bagikan

Lamar ke Lowongan Kerja Terbaru Setiap Harinya